Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Laskar Melayu Bersatu (LMB) Provinsi Kepulauan Riau menggelar Rapat Konsolidasi Perdana yang disejalankan dengan acara Halal Bihalal di ruang David 4, King Hotel, Kota Batam. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 11 April 2026, pukul 13.00 WIB ini dihadiri oleh jajaran pengurus, dewan pakar, serta para pemangku kepentingan yang memiliki ikatan emosional dengan organisasi kebudayaan Melayu tersebut.
Mengusung semangat silaturahim dalam momentum Syawal, sekaligus perumusan arah strategis organisasi, kegiatan ini dibagi dalam dua momentum penting: konsolidasi internal dan halal bihalal sebagai wadah penguatan nilai-nilai kebersamaan. Susunan acara yang sistematis dimulai dengan pembukaan oleh moderator, sambutan Ketua LMB Kepri Panglima Utama Dato’ Farizal, perkenalan serta verifikasi seluruh pengurus, pembacaan pakta integritas secara simbolis, diskusi pra-rapat kerja masing-masing divisi, usulan program kerja, pembahasan program, hingga ditutup dengan sesi foto bersama.
Acara berlangsung lancar dengan antusiasme penuh dari setiap peserta. Pada sesi usulan program, masing-masing ketua divisi, wakil ketua, dewan pakar, dan Ketua Resimen LMB memberikan masukan positif demi kemajuan organisasi, baik secara internal maupun eksternal. Isu utama yang mengemuka adalah bagaimana mengangkat taraf sosial dan ekonomi setiap anggota LMB, serta menjalin kemitraan strategis antara pemerintah dan lembaga swasta.

Dalam sambutannya, Ketua DPP LMB Kepri, Dato’ Panglima Utama Farizal, menyampaikan secara mendalam aspek historis dan filosofis berdirinya DPP LMB Kepri. Ia menjelaskan bahwa secara historis, DPP LMB Kepri adalah lembaga yang terpusat di Provinsi Kepulauan Riau, berdiri sendiri dan terpisah dari LMB Riau, yang secara lokus dan administrasi telah terpisah sejak Kepri membentuk provinsi sendiri.
Lembaga ini merupakan turunan langsung dari LMB Riau yang dipimpin oleh Letjen (Purn) Syarwan Hamid, yang diinisiasi oleh Dato’ HM. Alfan Suheiri, SE, Ak, MBA (Pembina Utama DPP LMB Kepri), tokoh yang dua dekade lalu menjabat sebagai Dato’ Panglima Muda LMB Kota Batam.
Secara filosofis, Farizal menegaskan bahwa meskipun Melayu identik dengan Kepri sebagai “bumi Melayu”, cakupan identitas Melayu sesungguhnya jauh lebih luas dan terbuka. Karena itu, rumah besar LMB Kepri tidak hanya menaungi etnis Melayu, tetapi juga semua komponen masyarakat, termasuk kalangan Tionghoa, yang turut bergabung dan berkontribusi. Hal ini menunjukkan bahwa LMB Kepri hadir sebagai ruang kebudayaan yang inklusif, menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan di tengah keberagaman.
Pendekatan Elegan dan Intelektualitas
Menanggapi usulan program dan masukan konstruktif dari para peserta, Dato’ Farizal menyatakan bahwa seluruh aspirasi tersebut sejalan dengan program utama DPP LMB. Ia menekankan bahwa LMB berdiri bukan sebagai organisasi masyarakat (ormas) lapangan yang mengedepankan aksi-aksi konfrontatif, melainkan lebih mengutamakan cara-cara elegan, intelektualitas, serta penguatan mental dan spiritual. Namun demikian, sektor ekonomi juga menjadi roda penggerak organisasi demi terwujudnya kesejahteraan seluruh anggota.
“LMB sudah menjajaki sejumlah kerja sama dengan sektor swasta, lembaga pendidikan dan pelatihan, serta berbagai tokoh untuk menggali potensi daerah. Kami ingin hadir dalam pola simbiosis mutualisme, di mana LMB dapat dilibatkan secara aktif tanpa kehilangan jati diri,” ujar Farizal di hadapan peserta.

Rapat konsolidasi ini dipimpin langsung oleh Ketua DPP Panglima Utama Dato’ Farizal, didampingi Setia Usaha Utama Dato’ Muhammad Natsir Tahar yang merangkap sebagai moderator, serta Bendahara Utama Dato’ H. Ismail Muhammad Don. Acara turut dihadiri sejumlah tokoh organisasi yang memiliki ikatan emosional dengan LMB, para praktisi, budayawan, serta sejumlah awak media.
Momentum ini juga sekaligus digunakan untuk membentuk kepanitiaan Deklarasi DPP LMB Kepri dan pelantikan sejumlah pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) kabupaten dan kota se-Kepulauan Riau yang rencananya digelar pada 16 Juni 2026 mendatang, bertepatan dengan 1 Muharam 1448 H. Ketua Panitia, Tamizi Rumahitam, menyatakan kesiapannya untuk menjadikan deklarasi tersebut sebagai acara yang spesial dan berkesan, sesuai dengan rekam jejaknya yang selalu sukses menggelar acara budaya bertaraf antarbangsa di Batam.
Gelaran konsolidasi dan halal bihalal LMB Kepri ini mencerminkan sebuah pergeseran paradigma gerakan kebudayaan Melayu kontemporer. Tidak lagi terperangkap dalam romantisme etnisitas sempit, LMB Kepri justru menegaskan bahwa “Melayu” adalah sebuah peradaban yang tumbuh dari nilai-nilai luhur seperti keterbukaan, musyawarah, penghormatan terhadap tradisi, dan kemampuan beradaptasi dengan modernitas. Dengan menggandeng seluruh lapisan masyarakat, termasuk etnis Tionghoa, LMB Kepri menunjukkan bahwa identitas ke-Melayuan di Kepulauan Riau adalah identitas yang cair, dinamis, dan inklusif.
Pendekatan elegan yang diusung, dengan prioritas pada intelektualitas dan kemitraan strategis, sekaligus menjadi kritik halus terhadap gaya organisasi masyarakat yang kerap mengedepankan mobilisasi massa dan konflik horizontal. LMB Kepri hadir sebagai alternatif: organisasi yang berakar pada budaya, namun berpijak pada nalar ekonomi dan kesejahteraan nyata. Hal ini sejalan dengan cita-cita membangun masyarakat Melayu modern yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
Dengan tersusunnya program kerja berbasis masukan dari seluruh divisi serta terbentuknya kepanitiaan deklarasi, LMB Kepri memasuki babak baru sebagai organisasi kebudayaan yang siap memainkan peran strategis di Provinsi Kepulauan Riau, bumi Melayu yang sekaligus menjadi pintu gerbang peradaban Nusantara ke dunia internasional. MK-r
